Jumat, 27 Januari 2012

Heart Journey (Epilog)

Kita sekarang harus berpisah di persimpangan jalan. Mencoba mengikuti kata hati untuk berpetualang. Tapi, hey mungkin saja suatu saat persimpangan jalan itu akan menjadi satu dan mempertemukan kita lagi. Kita yang berbeda, kita yang lebih dewasa, kita yang telah mengerti apa artinya petualangan ini. Dan mungkin itu saat yang tepat untuk kita melanjutkan jalan masing-masing atau mungkin kita bersama melewati jalan yang kita pilih untuk kita lalui bersama. Aku yakin itu keputusan yang lebih baik dari semua keputusan yang kita ambil sebelumnya. Dan sebelum itu terjadi let’s find our heart, our journey in this life. And finally our heart journey.

Heart Journey (prolog)

bertemu dengan mu itu bagaikan oksigen yang paling murni yang pernah kurasakan. bagaimana tidak, setiap saat yang kupirkan hanya lah dirimu seorang. tapi apakah pantas untukku mendapatkan mu? aku hanyalah debu ditumpukan emas yang selalu mengeliling mu kemana pun kau pergi. bagai punuk yang merindukan bulan.

tapi aku menyadari hal yang paling penting bahwa sebenarnya kita berbeda. tak akan pernah bersama sampai ada dari kita yang mengorbankan sesuatu yang sangat berharga dari hidup kita. pertanyaannya adakah salah satu dari kita akan mengorbankannya? atau ego kita terlalu berharga sehingga tidak ada yg mau dikorbankan? atau mungkin kita dapat berkorban bersama dan menemukan apa arti sebenarnya dari heart journey?

seandainya kita dapat mengatur hidup kita seperti diorama yang sering kau buat, mungkin hidup ini akan lebih mudah. seandainya aku dapat melukiskan kehidupan yang kita mau pasti aku akan selalu mengoreskan kuas warna pelangi untuk kita. seandainya kita dapat mengerti apa yang di inginkan Tuhan untuk kita pasti kita tidak akan ada yang terluka. seandainya hanyalah sebuah kata andai, impian semu, abu-abu.